TUGAS BAHASA INDONESIA

Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 23

                  INDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN DURIAN (Durio zibethinus Murr. cv. Selat
Jambi) PADA BEBERAPA KOMBINASI 2,4-D DAN BAP
(Callus Induction Explants Leaf Durian (Durio zibethinus Murr. cv. Selat Jambi)
With 2,4-D And Bap Combination)
Lizawati 1), Neliyati 1) dan Retna Desfira 2)
1) Lecturer and 2) Student
Agriculture Faculty, Jambi University
Mendalo Darat, Jambi
email: liza1124_zain@yahoo.com
ABSTRACT
The aim of this study to obtain the combination of 2,4-D and BAP the best
in inducing callus from leaf explants durian cv. Selat Jambi. The
experiment was arranged in completely randomized design with a growth
regulators combination of treatment 2,4-D (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 ppm) and
BAP (0,0 ; 0.5 ppm). Each treatment consisted of 10 bottles each culture
bottle were planted one explant culture. Explants cultured on induction
medium for 2 month. The parameter time of calli initiation were observed
every day. Meanwhile the percentage of explant forming callus, callus
structure and color of callus was observed at the end of the study. The
results showed that, granting some combination of growth regulators 2,4-
D and BAP are given to the culture medium was able to stimulate the
formation of callus on leaf explants young durian CV. Selat Jambi. Time
of the fastest callus initiation (8 days after cultur) was obtained on
medium 4 ppm 2,4-D + 0.5 ppm BAP. In contras, the highest percentage
of explants forming callus obtained on treatment of 5 ppm 2,4-D (30%).
Key words: Exsplants, Durio zibethinus, callus, BAP, 2,4-D

                                                        PENDAHULUAN
Provinsi Jambi mempunyai prospek yang cerah dalam pengembangan buah
durian (Durio zibethinus Murr), mengingat iklim yang sesuai dan sumber daya lahan
yang masih cukup tersedia. Durian Selat merupakan salah satu varietas lokal yang
berasal dari Provinsi Jambi dan telah ditetapkan sebagai varietas unggul lokal
berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor : 492/kpts/SR. 120/12/2005. Durian
varietas Selat memiliki keunggulan yaitu; daging buah tebal, berwarna kuning dengan
struktur halus dan sedikit berserat serta rasa manis legit. Umur tanaman durian selat
Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 24
yang ada pada saat ini berkisar antara 40-55 tahun dan merupakan tanaman durian yang
telah dibudidayakan oleh masyarakat secara turun-temurun dengan produktivitas dan
kualitas yang sangat beragam, sehingga nilai ekonomi harga jual perbuah sangat rendah
(Departmen Pertanian, 2006).
Permasalahan utama dalam pengembangan durian varietas Selat adalah
ketersediaan bibit yang masih terbatas. Saat ini tanaman durian varietas Selat hanya
dapat diperoleh dari satu pohon induk yang terdapat di Desa Selat. Selain itu kondisi
tanaman durian varietas Selat saat ini masih diperbanyak dengan teknik konvensional
yaitu melalui biji dan penyambungan (grafting). Namun banyak hal yang harus
dipertimbangkan dalam pelaksanaan perkembangbiakan dengan cara ini. Perbanyakan
melalui biji memiliki beberapa kekurangan diantaranya yaitu berbuahnya lama, kualitas
buah dan ketahanannya terhadap hama penyakit baru bisa diketahui dalam jangka lama.
Sedangkan melalui cara sambung (grafting) tingkat keberhasilannya rendah jika tidak
cocok antara scion dan rootstock, perakarannya tidak dalam sehingga mudah roboh bila
ada angin yang besar dan susah mendapatkan air bila tempat tumbuhnya mempunyai air
tanah yang dalam (Aryanto,2009).
Untuk mengatasi masalah tersebut dapat ditempuh melalui aplikasi kultur in
vitro. Menurut Gunawan (1988) kultur in vitro merupakan alternatif penyediaan bibit
dalam skala besar, seragam, cepat dan bebas penyakit. Perbanyakan tanaman secara in
vitro juga dapat diaplikasikan dalam pemuliaan tanaman dan preservasi plasma nuftah.
Teknik perbanyakan in vitro adalah suatu metoda penanaman protoplas, sel, jaringan
dan organ pada media buatan dalam kondisi aseptik sehingga dapat beregenerasi
menjadi tanaman lengkap.
Zat pengatur tumbuh memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan kultur. Faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penggunaan zat
pengatur tumbuh antara lain jenis yang akan digunakan, konsentrasi, urutan penggunaan
dan periode masa induksi kultur (Gunawan 1995). Menurut George dan Sherrington
(1984), bahwa untuk induksi kalus tanaman dikotil diperlukan auksin dengan
konsentrasi tinggi dan sitokinin pada konsentrasi rendah sedangkan pada tanaman
monokotil pembentukan kalus hanya membutuhkan auksin yang tinggi tanpa sitokinin.
Pengaruh zat pengatur tumbuh dalam pembentukan kalus telah banyak
dilaporkan, seperti ; Riyadi dan Tirtoboma (2004) melaporkan bahwa induksi terbaik
embrio somatik kopi Arabika varietas Kartika-1 secara langsung dari kultur daun muda
diperoleh pada media MS standar yang diberi 4 mg L-1 2,4-D dan dikombinasikan
dengan 0,1 mg L-1 kinetin yang dapat menginduksi seluruh eksplan dalam waktu empat
minggu setelah kultur. Abidin (2005) induksi kalus terbaik untuk tanaman gaharu
diperoleh pada perlakuan 2,4-D 0,1 mg L-1 + BAP 1,2 mg L-1. Jonwaldinson (2010)
mendapatkan perlakuan yang paling banyak menginduksi pembentukan kalus adalah 3
mg L-1 2,4-D yang diberikan pada eksplan kotiledon bagian tengah tanaman jarak
pagar.
Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 25
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi 2,4-D dan BAP yang
terbaik dalam menginduksi kalus dari eksplan daun muda durian varietas Selat.
Aplikasi teknik in vitro pada tanaman durian varietas Selat ini diharapkan dapat
membantu perbanyakan tanaman dalam waktu cepat, sehat dan berkesinambungan.

                                            BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas
Pertanian Universitas Jambi, Mendalo Darat pada bulan Oktober sampai Desember
2010. Bahan tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah daun muda dari tanaman
durian varietas Selat umur 3-4 minggu setelah muncul daun. Media yang digunakan
berupa media dasar MS (Murashige dan Skoog).
Eksplan daun dibilas dengan menggunakan air mengalir secara bersih
kemudian dilakukan perendaman menggunakan bahan fungisida dan bakterisida
masing-masing sebanyak 2 g yang dilarutkan dalam air steril sebanyak 250 ml selama ±
1 jam, selanjutnya sterilisasi dilakukan di dalam laminar air flow cabinet (LAFC)
menggunakan NaOCl dengan taraf 5% (15 menit) dan 20% (10 menit), kemudian
direndam dalam larutan alkohol 70 % selama ± 5 menit. Selanjutnya eksplan daun steril
dipotong dan dibuang bagian ujung dan pangkalnya, bagian tengah daun yang
berukuran ± 1 cm dikulturkan dan ditumbuhkan pada ruang kultur pada suhu 25 ± 30C
dengan lama pencahayaan selama 16 jam pada intensitas cahaya 1500-2000 lux.
Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan perlakuan kombinasi 2,4-D (1, 2, 3, 4, 5, 6. 7 ppm) dan BAP (0 ; 0,5 ppm),
setiap perlakuan terdiri dari 10 botol kultur tiap botol kultur ditanam 1 eksplan. Eksplan
dikulturkan pada media induksi selama 8 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap
waktu muncul kalus yang diamati setiap hari sedangkan untuk persentase eksplan
berkalus, struktur kalus dan warna kalus diamati pada akhir penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembentukan kalus diawali dengan terjadinya pembengkakan pada permukaan
eksplan. Pembengkakan ini disusul dengan terbentuknya kalus pada pinggir daun atau
dibagian tulang daun, karena pertulangan daun merupakan daerah penyalur makanan ke
seluruh bagian permukaan daun sehingga sel yang terdapat dekat pertulangan daun
dapat membelah dan membentuk kalus. Menurut Pierik (1987) ; Suryowinoto (1996)
bahwa, proses terjadinya kalus disebabkan adanya rangsangan luka, rangsangan tersebut
menyebabkan kesetimbangan pada dinding sel berubah arah, sebagian protoplas
mengalir keluar sehingga mulai terbentuk kalus. Terbentuknya kalus juga disebabkan
sel-sel kontak dengan media terdorong menjadi meristematik dan selanjutnya aktif
mengadakan pembelahan seperti jaringan penutup luka.
Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 26
Hasil pengamatan dan analisis data (rata-rata) menunjukkan bahwa pemberian
beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP ke dalam media kultur sudah
mampu memacu terbentuknya kalus pada eksplan daun muda. Kombinasi zat pengatur
tumbuh yang berbeda menghasilkan kecepatan eksplan membentuk kalus, persentase
eksplan berkalus, warna dan struktur kalus yang dihasilkan berbeda pula. Pengaruh
perbedaan kombinasi zat pengatur tumbuh terhadap kecepatan eksplan membentuk,
persentase eksplan berkalus, warna dan struktur kalus disajikan pada Tabel 1
Tabel 1. menunjukkan bahwa waktu muncul kalus paling cepat yaitu 8 Hari
Setelah Kultur (HSK) diperoleh pada perlakuan 2,4-D 4 ppm + BAP 0,5 ppm.
Sedangkan waktu paling lama membentuk kalus yaitu 21 HSK yang diperoleh pada
perlakuan 2,4-D 5 ppm. Khumaida dan Handayani (2010) melaporkan bahwa, eksplan
kotiledon muda tanaman kedelai mulai berkalus pada umur 1-2 minggu setelah kultur
(MSK) dengan persentase eksplan berkalus lebih dari 75%, pada perlakuan 10 mg L-1
2,4-D + 10 mg L-1 NAA maupun pada media 40 mg L-1 2,4-D.
Tabel 1. Waktu muncul kalus, persentase eksplan berkalus, warna kalus, dan struktur
kalus durian varietas Selat pada beberapa kombinasi 2,4-D dan BAP secara in
vitro pada umur 8 Minggu setelah kultur
Kombinasi
Perlakuan
(ppm)
Waktu
muncul kalus
(HSK)
Persentase
eksplan berkalus
(%)
Warna
kalus
Struktur
kalus
Keterangan
2,4-
D
BAP
1
0,0
– – – –
Tidak ada gejala
tumbuh
2 9 20 Krem – –
3 – – – –
Tidak ada gejala
tumbuh
4 14 20 Krem – –
5 21 30 Coklat Remah –
6 13 20 Krem – –
7 12,5 20 Krem – –
1
0,5
– – – –
Tidak ada gejala
tumbuh
2 15 20 Krem Kompak –
3 13 20 Krem Kompak –
4 8 10 Coklat Kompak –
5 15 10 Krem Remah –
6 – – – –
Tidak ada gejala
tumbuh
7 14 10 Coklat Remah –
Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 27
Persentase eksplan berkalus paling tinggi diperoleh pada perlakuan 2,4-D 5
ppm tanpa pemberian BAP sebanyak 30%. Hal ini diduga tepatnya komposisi zat
pengatur tumbuh yang digunakan, karena pembentukan kalus sangat dipengaruhi oleh
jenis dan keseimbangan antara auksin dan sitokinin yang diberikan ke dalam media
kultur. Konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin yang diberikan ke dalam media kultur
tersebut mampu menginduksi sel-sel yang berpotensi untuk melakukan pembelahan
secara terus-manerus dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan
lainnya. Selanjutnya kalus dapat memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus
menerus. Sel-sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang
renggang dengan sel-sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari
potongan organ yang telah steril di dalam media yang mengandung auksin dan kadangkadang
juga sitokinin. Penggunaan auksin pada kultur jaringan adalah salah satu usaha
untuk menghasilkan kalus pada eksplan. Auksin yang banyak digunakan untuk induksi
kalus pada eksplan adalah 2,4-D. Pemberian 2,4-D pada medium dasar kultur dapat
menginduksi pembentukan kalus dan menyebabkan pertumbuhan kalus terus
berlangsung. Hal yang sama juga dihasilkan dari penelitian Collin dan Edward (1998)
bahwa konsentrasi auksin sampai 5 ppm dapat menghasilkan pertumbuhan kalus secara
optimal. Selanjutnya penelitian Fitriyanti (2006) pada eksplan daun sambiloto induksi
kalus diperoleh pada perlakuan 2,4-D 5 ppm yang menghasilkan berat kalus tertinggi
yaitu sebesar 0,69 g. Sedangkan pada perlakuan 2,4-D 1 ppm ; 2,4-D 3 ppm ; 2,4-D 1
ppm + BAP 0.5 ppm; 2,4-D 6 ppm + BAP 0,5 ppm tidak terbentuk kalus.
Kegagalan eksplan membentuk kalus diduga adanya perbedaan kemampuan
jaringan menyerap unsur hara dan zat pengatur tumbuh dalam media induksi kalus
tersebut. Selain itu eksplan yang tidak membentuk kalus mengalami perubahan warna
dari hijau menjadi coklat kemudian mati, hal ini dapat disebabkan karena timbulnya
senyawa fenolik yang keluar dari eksplan tersebut. Menurut Wattimena (1988) bahwa,
asam-asam fenolik bersama-sama dengan asam absisik (ABA) merupakan inhibitor
endogen yang menghambat terbentuknya kalus.
Berdasarkan hasil pengamatan diakhir penelitian, warna kalus yang terbentuk
adalah krem dan coklat (Gambar 1). Riyadi dan Tirtoboma (2004), juga melaporkan
bahwa kalus dari eksplan daun kopi Arabika varietas Kartika yang dikulturkan pada
media 2,4-D 4 ppm warna yang terlihat ada dua macam yaitu putih dan coklat.
Gambar 1. Warna kalus yang terbentuk pada berbagai media perlakuan a. kalus berwarna
coklat (2,4-D 5 ppm); b. kalus berwarna krem (2,4-D 3 ppm + BAP 0,5 ppm); dan
c. kalus berwarna krem (2,4-D 5 ppm + BAP 0,5 ppm)
a b
c
Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 28
Gambar 2. Struktur kalus yang terbentuk, yaitu a. kalus struktur kompak (2,4-D 2 ppm + BAP
0,5 ppm) dan b. kalus struktur remah (2,4-D 2 ppm + BAP 0,5 ppm)
Perubahan warna yang terjadi pada kalus di duga sebagai tanggapan terhadap
rangsangan cahaya yang diberikan. Menurut Mentary (2006) bahwa, banyaknya kalus
yang berwarna coklat disebabkan oleh oksidasi senyawa fenolik. Hal ini menunjukkan
bahwa kalus berwarna coklat mengandung senyawa fenolik dalam jumlah tertentu.
Struktur kalus yang dihasilkan dari eksplan daun muda durian var. Selat adalah
kompak dan remah (Gambar 2), dimana struktur kompak permukaan kalus rata atau
berupa gerigi halus yang mengkilap, sedangkan kalus remah memiliki struktur
bergelombang tumbuh terpisah menjadi fragmen-fragmen kecil. Diduga perlakuan
tersebut mengarah pada perkembangan kalus secara embriogenik. Kalus embriogenik
dapat disebabkan oleh zat pengatur tumbuh 2,4-D yang terdapat di dalam medium
(Chan et al. 1998). Wattimena et al. (1992) menyatakan 2,4-D merupakan salah satu
auksin yang mempunyai aktivitas tinggi dibandingkan dengan auksin alamiah IAA,
selain itu 2,4-D lebih stabil karena tahan terhadap IAA oksidase.

                                                        KESIMPULAN
Pemberian beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP yang
diberikan ke dalam media kultur sudah mampu memacu terbentuknya kalus pada
eksplan daun muda durian varietas Selat. Waktu muncul kalus paling cepat yaitu 8 HSK
pada perlakuan 2,4-D 4 ppm + BAP 0,5 ppm. Sedangkan persentase eksplan berkalus
paling tinggi diperoleh pada perlakuan 2,4-D 5 ppm sebanyak 30%.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto. 2009. Pengaruh batang bawah dan cara sambung terhadap keberhasilan
sambung pucuk Durian (Durio zibethinus Murr). Surakarta. Universitas
Muhammadiyah.
Chan J. L, L. Saenz, C. Talavera , R. Hornung, M. Robert, C. Oropeza. 1998.
Regeneration of coconut (Cocos nucifera L.) from plumule explants through
somatic embryogenesis. Plant Cell Rep., 17:515-521.
a b
Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472
Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 29
Collin , H.A.S, Edward. 1998. Plant cell culture. UK: BIOS Scientific Publisher. Pp.
103-1121.
Departeman Pertanian. 2006. Keputusan Menteri Pertanian Nomor:
492/Kpts/SR.120/12/2005. Tentang pelepasan durian selat sebagai varietas
unggul.
Fitriyanti A. 2006. Efektivitas asam 2,4-D dan kinetin pada medium MS dalam induksi
kalus sambiloto dengan eksplan potongan daun. Skripsi. Universitas Negeri
Semarang.
George E.F, P. D. Sherrington. 1984. Plant propagation by tissue culture : Handbook
and Directory of Comercial Laboratories. England: Exegetics Limited.
Gunawan L.W. 1988. Teknik kultur jaringan tumbuhan. Laboratorium Kultur Jaringan
Tumbuhan. IPB. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdikbud
Gunawan LW. 1995. Teknik kultur In Vitro dalam hortikultura. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Jonwaldinson. 2010. Pengaruh 2,4-D Terhadap induksi embrio somatik pada berbagai
tipe eksplan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Skripsi.Universitas
Jambi. 50 Halaman.
Khumaida N., T. Handayani. 2010. Induksi dan proliferasi kalus embriogenik pada
beberapa genotipe kedelai. J. Agron. Indonesia 38 (1) : 19 – 24
Mentary, M. 2006. Induksi kalus dan tunas secara In Vitro tanaman mahkota dewa
dengan manipulasi zat pengatur tumbuh dan eksplan. Thesis. Sekolah
Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 104 p
Pierik R.L.M. 1987. In vitro culture of higher plants. Kluwer Academic Publishers,
Dordrecht, The Netherlands.
Riyadi I, Tirtoboma. 2004. Pengaruh 2,4-D terhadap induksi embrio somatik Kopi
Arabika. Buletin Plasma Nutfah Vol.10 (2): 82-89
Suryowinoto M. 1996. Pemuliaan tanaman secara In Vitro. Yogyakarta: Kanisius.
Wattimena G. A. 1988. Zat pengatur tumbuh. Pusat Antara Universitas. Institut
Pertanian Bogor.
Wattimena G. A. L.W. Gunawan, Mattjik, Samsudin, N.A. Wiendi, dan Ernawati. 1992.
Bioteknologi tanaman. Pusat Antar Universitas Bioteknologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: