TUGAS BAHASA INDONESIA

INDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN DURIAN (Durio zibethinus Murr. cv. Selat

Jambi) PADA BEBERAPA KOMBINASI 2,4-D DAN BAP

 

                                           Pendahuluan

Provinsi Jambi mempunyai prospek yang cerah dalam pengembangan buah

durian (Durio zibethinus Murr), mengingat iklim yang sesuai dan sumber daya lahan

yang masih cukup tersedia. Durian Selat merupakan salah satu varietas lokal yang

berasal dari Provinsi Jambi dan telah ditetapkan sebagai varietas unggul lokal

berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor : 492/kpts/SR. 120/12/2005. Durian

varietas Selat memiliki keunggulan yaitu; daging buah tebal, berwarna kuning dengan

struktur halus dan sedikit berserat serta rasa manis legit. Umur tanaman durian selat

Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472

Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 24

yang ada pada saat ini berkisar antara 40-55 tahun dan merupakan tanaman durian yang

telah dibudidayakan oleh masyarakat secara turun-temurun dengan produktivitas dan

kualitas yang sangat beragam, sehingga nilai ekonomi harga jual perbuah sangat rendah

(Departmen Pertanian, 2006).

Permasalahan utama dalam pengembangan durian varietas Selat adalah

ketersediaan bibit yang masih terbatas. Saat ini tanaman durian varietas Selat hanya

dapat diperoleh dari satu pohon induk yang terdapat di Desa Selat. Selain itu kondisi

tanaman durian varietas Selat saat ini masih diperbanyak dengan teknik konvensional

yaitu melalui biji dan penyambungan (grafting). Namun banyak hal yang harus

dipertimbangkan dalam pelaksanaan perkembangbiakan dengan cara ini. Perbanyakan

melalui biji memiliki beberapa kekurangan diantaranya yaitu berbuahnya lama, kualitas

buah dan ketahanannya terhadap hama penyakit baru bisa diketahui dalam jangka lama.

Sedangkan melalui cara sambung (grafting) tingkat keberhasilannya rendah jika tidak

cocok antara scion dan rootstock, perakarannya tidak dalam sehingga mudah roboh bila

ada angin yang besar dan susah mendapatkan air bila tempat tumbuhnya mempunyai air

tanah yang dalam (Aryanto,2009).

Untuk mengatasi masalah tersebut dapat ditempuh melalui aplikasi kultur in

vitro. Menurut Gunawan (1988) kultur in vitro merupakan alternatif penyediaan bibit

dalam skala besar, seragam, cepat dan bebas penyakit. Perbanyakan tanaman secara in

vitro juga dapat diaplikasikan dalam pemuliaan tanaman dan preservasi plasma nuftah.

Teknik perbanyakan in vitro adalah suatu metoda penanaman protoplas, sel, jaringan

dan organ pada media buatan dalam kondisi aseptik sehingga dapat beregenerasi

menjadi tanaman lengkap.

Zat pengatur tumbuh memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan

perkembangan kultur. Faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penggunaan zat

pengatur tumbuh antara lain jenis yang akan digunakan, konsentrasi, urutan penggunaan

dan periode masa induksi kultur (Gunawan 1995). Menurut George dan Sherrington

(1984), bahwa untuk induksi kalus tanaman dikotil diperlukan auksin dengan

konsentrasi tinggi dan sitokinin pada konsentrasi rendah sedangkan pada tanaman

monokotil pembentukan kalus hanya membutuhkan auksin yang tinggi tanpa sitokinin.

Pengaruh zat pengatur tumbuh dalam pembentukan kalus telah banyak

dilaporkan, seperti ; Riyadi dan Tirtoboma (2004) melaporkan bahwa induksi terbaik

embrio somatik kopi Arabika varietas Kartika-1 secara langsung dari kultur daun muda

diperoleh pada media MS standar yang diberi 4 mg L-1 2,4-D dan dikombinasikan

dengan 0,1 mg L-1 kinetin yang dapat menginduksi seluruh eksplan dalam waktu empat

minggu setelah kultur. Abidin (2005) induksi kalus terbaik untuk tanaman gaharu

diperoleh pada perlakuan 2,4-D 0,1 mg L-1 + BAP 1,2 mg L-1. Jonwaldinson (2010)

mendapatkan perlakuan yang paling banyak menginduksi pembentukan kalus adalah 3

mg L-1 2,4-D yang diberikan pada eksplan kotiledon bagian tengah tanaman jarak

pagar.

Vol 1 No.1 Januari – Maret 2012 ISSN: 2302-6472

Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian Universitas Jambi 25

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi 2,4-D dan BAP yang

terbaik dalam menginduksi kalus dari eksplan daun muda durian varietas Selat.

Aplikasi teknik in vitro pada tanaman durian varietas Selat ini diharapkan dapat

membantu perbanyakan tanaman dalam waktu cepat, sehat dan berkesinambungan.

 

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas

Pertanian Universitas Jambi, Mendalo Darat pada bulan Oktober sampai Desember

2010. Bahan tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah daun muda dari tanaman

durian varietas Selat umur 3-4 minggu setelah muncul daun. Media yang digunakan

berupa media dasar MS (Murashige dan Skoog).

Eksplan daun dibilas dengan menggunakan air mengalir secara bersih

kemudian dilakukan perendaman menggunakan bahan fungisida dan bakterisida

masing-masing sebanyak 2 g yang dilarutkan dalam air steril sebanyak 250 ml selama ±

1 jam, selanjutnya sterilisasi dilakukan di dalam laminar air flow cabinet (LAFC)

menggunakan NaOCl dengan taraf 5% (15 menit) dan 20% (10 menit), kemudian

direndam dalam larutan alkohol 70 % selama ± 5 menit. Selanjutnya eksplan daun steril

dipotong dan dibuang bagian ujung dan pangkalnya, bagian tengah daun yang

berukuran ± 1 cm dikulturkan dan ditumbuhkan pada ruang kultur pada suhu 25 ± 30C

dengan lama pencahayaan selama 16 jam pada intensitas cahaya 1500-2000 lux.

Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)

dengan perlakuan kombinasi 2,4-D (1, 2, 3, 4, 5, 6. 7 ppm) dan BAP (0 ; 0,5 ppm),

setiap perlakuan terdiri dari 10 botol kultur tiap botol kultur ditanam 1 eksplan. Eksplan

dikulturkan pada media induksi selama 8 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap

waktu muncul kalus yang diamati setiap hari sedangkan untuk persentase eksplan

berkalus, struktur kalus dan warna kalus diamati pada akhir penelitian.

Dalam pendahuluan tidak terdapat latar belakang,rumusan masalah tetapi terdapat didalam pendahuluan dan ada penjabaran dari bahan dan metode.

Tema

Untuk mendapatkan kombinasi 2,4-D dan BAP yang

terbaik dalam menginduksi kalus dari eksplan daun muda durian varietas Selat.

Topik

INDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN DURIAN

Gagasan

Pembentukan kalus diawali dengan terjadinya pembengkakan pada permukaan

eksplan. Pembengkakan ini disusul dengan terbentuknya kalus pada pinggir daun atau

dibagian tulang daun, karena pertulangan daun merupakan daerah penyalur makanan ke

seluruh bagian permukaan daun sehingga sel yang terdapat dekat pertulangan daun

dapat membelah dan membentuk kalus.Terbentuknya kalus juga disebabkan sel-sel kontak dengan media terdorong menjadi meristematik dan selanjutnya aktif mengadakan pembelahan seperti jaringan penutup luka.

IDE

pengembangan durian varietas Selat adalah ketersediaan bibit yang masih terbatas.kondisi

tanaman durian varietas Selat saat ini masih diperbanyak dengan teknik konvensional

yaitu melalui biji dan penyambungan (grafting).

Gaya slingkung yang terdapat pada jurnal ini adalah : bentuknya terdiri dari ukuran tulisan 12 dan tipe tulisan adalah times new roman,jarak spasi tulisan 1,5 lebar pinggir tulisan 2cm,penempatan bagian cetak ditengah,pemilihan tipe bagian huruf adalah times new roman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: